Trip to Pulau Harapan

Akhirnya setelah sekian lama, saya travelling jugaa. Kali ini, kita (saya dan 8 teman sekantor saya) pergi ke Pulau Harapan, salah satu pulau di Kepulauan Seribu, Jakarta. Kebetulan kita dijadwalkan untuk berangkat hari Sabtu pagi, dan pulang Minggu siang, sekitar 2 hari 1 malam lah yaa. Kita menggunakan travel agent PT JALANER AIR INDONESIA, jadi paket 2 hari 1 malam itu merogoh kocek Rp 350.000,- dengan fasilitas snorkeling, jalan-jalan ke 4 pulau (pulau harapan itu sendiri, pulau Dolphin – istirahat dan banana boat, pulau kelapa dua – tempat penyu dan mangrove, pulau Bulat – jalan-jalan aja buat foto-foto), penginapan, makan 3 kali, barbeque 1 kali dan transport berangkat dan pulang. Menurut saya, itu termasuk murah sih.

DAY 1

Keberangkatan

Kita kumpul di pelabuhan kali adem (Muara Angke). Bagi orang yang domisili di Tangerang dan mau naik KRL, dari tangerang naik ke arah duri, turun di stasiun grogol. Dari stasiun grogol, naik gojek ke kali adem, untuk go-ride sekitar 23 ribuan, go-car 45 ribuan. Masuk terus sampai ke pelabuhan, sampai menemukan view ini.

Pelabuhan Kali Adem
Pelabuhan Kali Adem (dokumentasi pribadi)

Jangan kaget, kalau kalian ke sana on weekend, pasti akan sangat ramee. Lebih baik berangkat pagi ya guys, karena kondisi jalan menuju pelabuhan (dari gerbang muara angke) macet sekalee karena banyak mobil yang mau parkir. Jadi better pakai go-ride saja.

Beli karcis naik kapal, dengan harga Rp 62.000,- Menuju kapal, dari spot itu, ke kiri, naik tangga, turun tangga, and welcome. Ada banyak perahu, nanti kalian akan ditunjukkan kapal mana yang harus kalian naiki. Yas, jangan bayangkan kapalnya seperti speed boat, atau cruise ship, atau kapal pesiar, jauuuuh banget. Maklum kelas ekonomi yaa. Waktu kemarin saya dan teman-teman memilih duduk di dek kapal paling bawah, pakai kursi, a little bit pengap, karena udara Cuma keluar masuk dari jendela yang tidak begitu besar. Well, let’s enjoy this journey.

Dan saya bisa bilang, it’s worse! Faktanya : di antara teman-teman saya, saya adalah orang yang pertama muntah, disusul dengan beberapa teman saya, karena mabuk laut. Entah mabuk laut atau memang karena kondisi ruangan kapal yang memang sumpek, udara pengap, dan puanas puol.

Tips untuk naik kapal (apalagi yang pertama kalinya naik kapal feri tertutup semacam ini):

  1. Pilihlah seat di atas karena sirkulasi udara lebih bagus dan sepertinya guncangan tidak separah di bawah. Ini sudah terbukti, ketika kita naik kapal pulang, kita duduk di de katas, wow, ga gerah sama sekali, ga enek sama sekali, segerrrrr. Sangat berbeda dengan di bawah, orang dan barang umplek-umplekan, kursi tidak ergonomis, sirkulasi udara buruk, membuat gerah sangat, keluar dari kapal baju basah, seriusan.
  2. Jangan makan berat tepat sebelum naik kapal. Saya dan teman-teman makan pagi di kapal, begitu selesai makan, kapal berangkat. Perut full of makanan, terus digoyang-goyang serasa naik kora-kora atau Niagara-gara, rasakan. Alhasil, sukses memuntahkan kembali makanan-makanan itu.
  3. Tidur sambil berpikir, pokoknya berpikir atau membuat mimpi dan cerita aneh-aneh di pikiran, jadi guncangan kapal itu tidak terasa dan terlupakan begitu saja.
  4. Minum antimo, biar dipaksa tidur.

Perjalanan memakan waktu 3 jam, jadi memang lebih baik tidur agar tidak terlalu terasa lama.

Welcome Pulau Harapan

Pulau Harapan new
Pulau Harapan (Dokumentasi Pribadi)

Setelah melewati medan perjalanan yang sangat menantang, oh my god, so struggliiiing. Bahagia sekali rasanya sampai daratan. Dan dengan buruknya kondisi perjalanan tadi, saya bilang ke diri saya “awas ya, udah perjalanannya gembel banget, kalo sampe pemandangannya ga bagus, hmpftt”.

Disambut dengan lautan biru kehijauan, saya sukaa. Dermaga sudah terbuat beton dan semen. Tidak ada pantai pasir, tapi full of beton, mungkin karena sering lalu lalang kapal feri besar kali yaa. Di sepanjang jalan dermaga, banyak jajanan-jajanan SD, mulai dari stik cumi, stik kepiting, telor gulung, martabak mini, tahu krispi, minuman segar dll. Anak-anak kecil telanjang berenang dan mengambil uang yang dilemparkan turis ke laut. Puluhan kapal berjejer parkir di sisi dermaga.

Welcome Pulau Harapan
Selamat Datang di Pulau Harapan (Dokumentasi Pribadi)

Selamat dataang. Secara umum, pulau ini sudah cukup baik fasilitasnya, modern bisa dibilang, maksudnya :

  1. Listrik 24 jam. Kata warga, listrik diambil dari muara angke, ada fiber optic ditanam di laut untuk menyalurkan listrik ke pulau ini.
  1. Sudah tersedia air tawar untuk mandi dan minum. Yang kata warga sekitar, air diperoleh dari air tanah yang melalui proses RO. Di beberapa tangki air, ada tulisan CSR perusahaan tertentu, yaa setidaknya ada yang peduli dengan pulau ini dan tidak terlalu primitive.
  2. Ada tempat sampah yang cukup
  3. Sudah ada kulkas di warung-warung (modern ga sih? Atau biasa aja? Yasudahlah ga penting)
  4. Ada ATM, walaupun ATM Bank DKI.
  5. Ada puskesmas, sekolah, dan kantor kelurahan.

Penginapan

Jangan bayangkan penginapan layaknya hotel yaa. 350 ribu, dapat apa? Penginapan berupa 1 kamar besar, dengan jumlah tempat tidur sesuai banyaknya anggota trip. Kebetulan di rombongan saya, ada 2 orang laki-laki dan 7 orang perempuan, jadi 1 kamar. Kamar mandi Cuma 1, ada 2 keran di luar. Kamar ber-AC. Di depan kamar langsung hutan mangrove dan laut. Dapat minum gratis, ada dispenser dan gallon. Overall, sesuai dengan harganya lah yaa.

Hutan Mangrove
Hutan Mangrove depan kamar (Dokumentasi Pribadi)

Snorkeling

Tujuan pertama begitu sampai pulau Harapan adalah SNORKELING. Perjalanan ke spot snorkeling memakan waktu kurang lebih 30 menit. Ini kali pertamanya saya dan sebagian besar teman saya. Dan surprisingly, mostly kita tidak bisa berenang (well, saya pernah bisa, tapi sekarang kagok banget). Tapi jangan khawatir, kita tetap bisa menikmati indahnya dunia bawah laut Kepulauan Seribu karena tersedia pelampung dan juga kacamata dan snorkel dari travel agentnya.

First impression, woww, saya suka laut, saya harus bisa berenang. Dengan keterbatasan mata saya yang minus ini, dibantu dengan kacamata renang minus 4 yang saya beli dadakan sehari sebelum berangkat, saya bisa melihat lucunya ikan-ikan berenang sana sini di antara karang, karang-karang yang besar berwarna kuning hingga coklat, menurut saya yang tumbuh di tengah cairan biru kehijauan ini. Amazing. Mungkin pemandangan yang saya lihat ini belum sebagus karang yang ada di lautan bunaken atau Maluku atau di bagian Kepulauan seribu lain yang berwarna warni dan bervariasi bentuknya, tapi that’s okay, saya senang kok J Tapi maaf, saya lupa nama pulaunya.

Istirahat dan banana boat

Lapar gaes setelah siang bolong snorkeling-an. Berlabuhlah kita di pulau Dolphin, perjalanan sekitar 15 menit dari spot snorkeling. Pulau ini kecil, tapi rame juga, karena di sini ada fasilitas banana boat dan banyak warung makan. Untuk biaya banana boat, tarifnya Rp 35.000,- / orang untuk 1 kali putaran aja. Untuk makan, menunya yaa biasa, apa lagi kalau bukan indomie/pop mie, dan gorengan. Harganya, untuk indomie pakai telur Rp 12.000,-, sedangkan gorengan 4 buah Rp 10.000,- , air minum 1500 L Rp 10.000,- , air minum 600 mL Rp 5.000,- Ada juga es kelapa muda utuhan dan minuman ringan lain.

Pulau Dolphin
Pulau Dolphin (Dokumentasi Pribadi)

Kembali ke pulau Harapan

Baju renang basah, kena angin sore, brrr, dinginnn. Air laut mulai pasang, ombak jadi lebih besar dibanding siang tadi. Mari menikmati senja di atas kapal ditemani perpaduan bunyi mesin kapal, suara ombak dan suara angin. Soundtrack yang cocok mungkin ‘Maliq and D’essential – senja teduh pelita’, karena framenya sama persis dengan official lyric videonya. Malam pun ditemani, susu jahe harga Rp 7.000,-, jajan stik cumi dan telur gulung Rp 2.000,-/tusuk, dan ikan bakar.

Senja di Kapal
Senja Teduh Pelita (Dokumentasi Pribadi)

DAY 2

Pulau Bulat

Sunrise terlewatkan karena badan ini terlalu malas berpindah dari tempat tidur. Packing karena jam 1, kapal ferry menuju kali adem datang.

Menuju pulau Bulat, ada gerbang, mengingatkan saya pada gerbang Argonath dalam film Lord of the Rings. (Masukin foto)

Di Pulau Bulat, kita sekadar numpang foto. Entah ada wisata apa di pulau ini, tapi sepertinya hanya ada pepohonan, mercusuar tua dan dermaga kayu tua yang ada di sini. Photo shoot time.

Pulau Kelapa Dua

Di sini ada tempat pelestarian penyu, bukan penangkaran penyu, tapi sekadar tempat display penyu untuk edukasi. Di belakang tempat penyu, ada hutan mangrove. I love being here. Di sana ada pondokan di tepi pantai, tidak ada suara mesin kapal, pure suara ombak laut dan angin, so serene, I love it. Saya mau liburan terus, tapi saya butuh duit, jadi saya harus kerja -__-

Kembali ke Pulau Harapan untuk menanti kapal ferry kita, jam 13.00 berangkat, dan bye pulau Harapan.

Beberapa notes dari trip ini :

  • JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN

Sedih tau ga sih, di laut lepas ada plastik, botol air minum sekali pakai, bungkus rokok mengambang. Lebih sedih lagi melihat air di kali adem, warna airnya coklat kehitaman gaes, ini laut atau air comberan. Entah penyebabnya dari sampah atau pembangunan di dekat pelabuhan, satu hal : JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN.

  • Jaga terumbu karang

Salah satu caranya jangan buang sampah sembarangan. Jangan injak karang, ini yang sedih sih, karena kita tidak bisa berenang, terkadang kita duduk atau berdiri di karang 😦 maaf karang, habis ini aku belajar berenang deh.

Happy travelling 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s